,

Bahas Perkawinan Anak, IDFoS dan STIKES Rajekwesi Audiensi ke Kemenag Bojonegoro

Audiensi perkawinan anak bersama Kemenag Bojonegoro

Sebagai bentuk kepedulian atas tingginya angka perkawinan anak khususnya di Kabupaten Bojonegoro, IDFoS Indonesia bersama STIKES Rajekwesi Bojonegoro yang akan melaksanakan riset terkait  perkawinan anak pada Jum’at (16/02/2023) mengadakan Audiensi bersama dengan Kementerian Agama Kab. Bojonegoro.

Audiensi ini dihadiri oleh Layli Mubarokah dan Nelly dahlia dari IDFoS Indonesia, Sri Mulyani M.Kes selaku Ketua LPPM STIKES Rajekwesi, Agus Ari Afandi M.Psi selaku Psikolog dari STIKES Rajekwesi, Dr. Zainal Arifin M.Pd. selaku Kepala TU Kemenag dan Ibu Mahmudah.

Audiensi ini bertujuan untuk bersilaturrahmi dan bertukar pikiran sekaligus membicarakan tentang perkawinan anak yang marak di Kabupaten Bojonegoro, meskipun jumlahnya dari tahun 2022 ke 2023 menurun, namun angka itu masih cukup tinggi.

Baca juga:  Penuh Antusias Ikuti Seminar Kewirausahaan 2017 Sesi II

Pada kesempatan tersebut IDFoS Indonesia juga menggali informasi mengenai peta data sebaran perkawinan anak di Kabupaten Bojonegoro. Data itu nantinya akan digunakan sebagai bahan riset untuk mengetahui apa saja faktor penyebab perkawinan anak yang cukup tinggi.

Sebagaimana tercantum dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyatakan bahwa Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.  Oleh karena itu, dalam rangka mendapatkan izin untuk menikah, banyak orang tua yang mendaftarkan perkara dispensasi nikah ke pengadilan Agama.

Baca juga:  Perkawinan Anak Membuat Kemiskinan Baru

Dr. Zainal Arifin M.Pd. selaku Plt Kasubag TU Kemenag  Kab. Bojonegoro mengatakan bahwa jika dari total 447 yang mengajukan dispensasi nikah ditahun 2023, 40% dari total tersebut akibat hamil di luar nikah.

Diakhir audiensi beliau berharap  agar IDFoS Indonesia dapat turut serta dalam mensosialisasikan undang-undang perkawinan untuk mendorong berkurangnya perkawinan anak di lingkungan Kabupaten Bojonegoro.

Maraknya masalah perkawinan anak ini dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain ekonomi, pergaulan yang beresiko, budaya dan menghindari zina. Selain itu juga karena adanya kekurang pahaman baik dari orangtua maupun anak tentang dampak dan bahaya dari perkawinan anak itu sendiri.