,

Bulan Puasa Tingkatkan Ibadah Kurangi Sampah

https://idfos.or.id/mari-pilah-sampah-sejak-dari-sumber/

Bulan Ramadhan adalah bulan mulia yang penuh berkah dimana umat Islam berlomba-lomba untuk mencari keberkahan. Namun sayangnya, momen bulan suci ini kerap diiringi dengan meningkatnya produksi sampah dibanding hari-hari biasa. Salah satu alasan kenapa sampah menjadi lebih banyak adalah karena konsumsi yang berlebihan.

Perusahaan periklanan global, The Trade Desk meluncurkan hasil riset terbaru terkait dengan perilaku berbelanja masyarakat Indonesia pada Ramadan 2024. Hasilnya, sebanyak 67% orang Indonesia berencana mengalokasikan satu per empat dana tunjangan hari raya (THR) untuk peningkatan belanja.

Sementara itu, Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya pada tahun 2023  menyebutkan, sampah warga Surabaya yang masuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo sehari mencapai 1.500 hingga 1.600 ton. Jumlah itu meningkat 100-200 ton/hari pada bulan Ramadhan dan  bertambah 400-500 ton menjelang Idul Fitri.

Baca juga:  Bahas Perkawinan Anak, IDFoS dan STIKES Rajekwesi Audiensi ke Kemenag Bojonegoro

Seharusnya bulan Ramadan menjadi momen untuk perbaikan diri bagi umat muslim untuk mendalami kembali makna dari berpuasa. Makna puasa ‘shiyam’ yaitu menahan diri dari makan dan minum serta segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Mengutip data dilaman Sipsn Menlhk, Dari 19.560.111,17 ton timbunan sampah ditahun 2023, presentase tertinggi sebanyak 41,2 % merupakan sampah makanan dan disusul oleh sampah plastik sebanyak 18,6%.

Sampah plastik yang meningkat tajam adalah kantong kresek, plastik kemasan, alat makan sekali pakai, gelas dan sedotan.

Sampah sisa makanan adalah salah satu jenis sampah yang menghasilkan emisi gas metana. Metana (CH4) merupakan gas yang jangka waktu keberadaannya lebih pendek di atmosfer (±12 tahun) dibandingkan karbon yang dapat mencapai 200 tahun.

Baca juga:  Musdes Pelaksanaan Tuntas, Beged-Ngraho Penandatanganan MoU

Namun, berbanding terbalik dengan masa keberadaannya yang pendek, metana 25 kali lebih kuat dalam memperparah pemanasan global. Maka kebiasaan masyarakat yang boros terhadap makanan harus dihentikan.

Harus dimulai dari diri sendiri untuk mengatasi permasalahan sampah yang meningkat selama bulan Ramadhan, bagaimana caranya?

Ganti kantong plastik dengan tas kain

Bawa tas kain saat membeli takjil. Di Indonesia 9,85 miliar kantong kresek dibuang dalam 1 tahun menjadi sampah. Kresek itu akan berakhir di laut dan di Tempat Pembuangan Akhir  (TPA)yang sangat bahaya untuk dunia kita.

Jangan pakai sedotan plastik

500 juta sedotan plastik setiap hari dibuang setelah 1x pakai. Ganti dengan sedotan bambu, stainless, kaca atau silikon.

Habiskan makananmu, jangan buat sampah sisa makanan

Baca juga:  Dinkes-IDFoS Kerja Sama Peningkatan Pelayanan Bidang Kesehatan

Setiap 1 orang Indonesia menyisakan sebutir nasi, maka akan ada 4980 kg nasi terbuang setiap hari. Selain itu, agama Islam juga melarang untuk menghamburkan makanan atau boros, karena orang yang boros itu merupakan saudara dari setan, sementara setan itu masuk kategori makhluk yang ingkar kepada Allah SWT.

Bawa tempat minum sendiri

Konsumsi air minum hanya butuh waktu beberapa menit tapi saat botol tersebut dibuang, maka botol plastik itu tidak akan terurai hingga ratusan tahun (200-450 tahun). Lebih baik selalu siapkan botol minum sendiri.

Makan makanan sehat dan hindari makanan sachet

Dengan menerapkan pola makan seimbang, kamu akan lebih bijak saat membelanjakan uang untuk berbuka puasa.