Antisipasi Kemarau Kering 2026, IDFoS Indonesia Diskusikan Hasil Pertemuan TKPSDA WS Bengawan Solo

Bojonegoro – IDFoS Indonesia menggelar diskusi internal untuk menyampaikan hasil pertemuan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (TKPSDA WS) Bengawan Solo pada Rabu (29/4/2026). Bertempat di ruang rapat kantor IDFoS Indonesia, paparan ini disampaikan oleh Rizal Zubad Firdausi, Ketua Divisi Riset, Publikasi, dan Kehumasan IDFoS Indonesia, dihadiri oleh staf, relawan, serta koordinator divisi lainnya.
Diskusi ini bertujuan mensosialisasikan hasil pertemuan yang sebelumnya telah terlaksana pada 15 April 2026 di Surakarta. Fokus utama pembahasan adalah analisis iklim tahun 2025 serta prediksi iklim tahun 2026 di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo berdasarkan data BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur. Sebagai informasi, IDFoS Indonesia merupakan anggota Komisi 3 TKPSDA yang membidangi Pengendalian Daya Rusak Air serta Pengelolaan Sistem Informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, dan Hidrogeologi (PSIH3).
Dalam paparannya, Rizal menjelaskan karakteristik fenomena El Nino dan La Nina serta dampaknya yang signifikan terhadap sektor pertanian. Berdasarkan analisis historis, curah hujan pada tahun 2023 tercatat jauh lebih kering, sementara tahun 2024 cenderung lebih bervariasi, dan tahun 2025 didominasi oleh deviasi curah hujan basah.
Berdasarkan data terkini hingga April 2026, kondisi iklim pada pertengahan tahun (Mei–Juli) diperkirakan akan bergeser dari status netral menuju El Nino lemah hingga moderat. Selain itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap netral hingga pertengahan tahun, dengan kemungkinan berubah menjadi positif pada semester kedua 2026. Kombinasi fenomena ini berpotensi menyebabkan musim kemarau di Jawa Timur menjadi lebih kering dari biasanya.
Menyikapi prediksi tersebut, Sidang TKPSDA merumuskan sejumlah langkah antisipasi strategis, diantaranya; penyesuaian pengelolaan air untuk menjaga ketahanan sumber daya air melalui peninjauan kembali Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT Q50-Q80) dan penyesuaian Rencana Alokasi Air Rinci (RAAR).
Pemantauan intensif kondisi waduk dan upaya penambahan volume air, termasuk melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan; peningkatan kesiapsiagaan terhadap risiko kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) dan jaminan ketersediaan air bersih bagi masyarakat serta stabilitas pasokan energi listrik.
Sebagai penutup diskusi, Rizal Zubad Firdausi memberikan pesan reflektif mengenai pentingnya pelestarian alam dalam menjaga siklus air. “Sebenarnya Tuhan sudah menyediakan air yang cukup untuk kita dalam setahun, tinggal bagaimana kita mau menyimpannya atau membiarkannya mengalir begitu saja. Tuhan Maha Adil dan semua yang akan terjadi sudah disiapkan segalanya. Tugas kita sekarang adalah menjaga pohon, hutan dan ketersediaan air,” pungkas Rizal.



