Capacity Building Hari Ketiga, IDFoS Indonesia Perkuat Kapasitas Penelitian Kualitatif Berbasis PAR

BOJONEGORO – Rangkaian Capacity Building IDFoS Indonesia memasuki hari ketiga dengan mengangkat tema Penelitian Kualitatif dengan Metode Participatory Action Research (PAR), Kamis (6/8/2026), di Kantor IDFoS Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan Direktur IDFoS Indonesia, Dr. Joko Hadi Purnomo, SE., M.Si., ME., sebagai narasumber dan diikuti oleh koordinator divisi, staf, pendamping IDFoS Indonesia, serta mahasiswa magang dari Universitas Bojonegoro (Unigoro) dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Pelatihan tersebut berlangsung secara interaktif. Dalam paparannya, Joko menjelaskan bahwa metode PAR pada dasarnya digunakan sebagai sarana untuk mendorong perubahan sosial berbasis komunitas. Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar penelitian, metodologi PAR, tahapan proses, hingga teknik dalam pengumpulan data partisipatif.
Untuk memperdalam pemahaman, para peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga langsung melakukan praktek lapangan dengan membuat peta wilayah, menyusun diagram Venn, dan melakukan simulasi transect. Melalui praktik tersebut, peserta diajak memahami bagaimana ketiga alat kajian partisipatif saling melengkapi dalam proses identifikasi masalah hingga penyusunan rekomendasi aksi bersama masyarakat.
Joko menegaskan bahwa kegiatan Capacity Building ini merupakan bagian dari komitmen IDFoS Indonesia untuk mentransformasikan pengetahuan kepada seluruh peserta, baik mahasiswa magang maupun tim internal.
“Upaya ini kami lakukan agar mahasiswa mendapat manfaat selama magang di IDFoS meskipun waktunya tidak lama. Sebisa mungkin kita mentransformasikan sesuatu karena kalian adalah agen perubahan. Untuk kawan-kawan IDFoS juga, ilmu itu tidak boleh stagnan. Ilmu harus terus berkembang dan didiskusikan. Karena itu perlu ada capacity building seperti ini,” ungkapnya.
Manfaat kegiatan ini turut dirasakan langsung oleh para peserta. Farid, salah satu pendamping lapangan IDFoS Indonesia, menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan wawasan dan praktik baru yang belum pernah ia dapatkan di bangku kuliah. Hal senada diungkapkan Marva, mahasiswa magang, yang menilai pembuatan diagram Venn sangat membantu dalam memetakan besarnya pengaruh lembaga terhadap isu-isu di masyarakat.
Sementara itu, Jatmiko, relawan riset IDFOS Indonesia, menilai materi PAR selaras dengan pengalamannya di lapangan, dimana peneliti harus memposisikan diri dan menyatu sebagai bagian dari masyarakat agar tindakan yang dirancang dapat diterima dan berjalan efektif.



