,

Harga Pakan Naik, Harga Telur Turun, Program GAYATRI di Ngampel Tetap Tunjukkan Hasil Positif

Bojonegoro – Tim pendamping IDFoS Indonesia melakukan kunjungan lapangan untuk melakukan kroscek perkembangan penerima manfaat Program GAYATRI (Gerakan Ayam Petelur Mandiri) di Desa Ngampel, Kabupaten Bojonegoro. Hasil monitoring menunjukkan usaha peternakan ayam petelur yang dikembangkan masyarakat masih berjalan produktif meski menghadapi tantangan kenaikan harga pakan dan penurunan harga jual telur.

Program GAYATRI merupakan program pemberdayaan masyarakat yang diprakarsai oleh PT Pertamina EP Sukowati Field (PEP Sukowati) sebagai bagian dari Zona 11 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, dengan difasilitasi oleh IDFoS Indonesia.

Tim pendamping IDFoS Indonesia, Prastya, melakukan verifikasi terhadap tiga penerima manfaat, yakni Parji, Rakijan, dan Sugianto. Ketiganya masih aktif mengelola usaha peternakan ayam petelur yang diberikan melalui program tersebut.

Baca juga:  Seminar “Tanggung Jawab Hukum Perusahaan Berdasarkan Kovenan PBB tentang Hak Ekosob” IDFoS with Universitas Airlangga

Parji mengungkapkan, produksi telur dari 54 ekor ayam yang dipeliharanya mencapai lebih dari 3 kilogram setiap hari. Telur tersebut dijual kepada tetangga sekitar pada 24-25 Juni 2026 dengan harga Rp22.000 per kilogram. Seluruh ayam bantuan masih terpelihara dengan baik sebanyak 54 ekor. Namun, ia mengaku mulai merasakan tekanan akibat kenaikan harga pakan yang kini mencapai Rp380.000 per karung ukuran 50 kilogram, sementara harga telur justru mengalami penurunan.

Kondisi serupa dialami Rakijan. Dari 50 ekor ayam yang masih dipeliharanya, produksi telur rata-rata mencapai sekitar 3 kilogram per hari. Hasil panen pada 24-25 Juni dipasarkan ke toko dengan harga Rp20.000 per kilogram. Menurutnya, kenaikan harga pakan yang tidak diikuti kenaikan harga telur menjadi tantangan utama dalam menjaga keuntungan usaha.

Baca juga:  IDFoS dan EMCL Gelar Rembug Kelompok Tani Hutan, Dorong Pengelolaan Hutan Berkelanjutan di Desa Sekar

Sementara itu, Sugianto masih memelihara 53 ekor ayam dari total 54 ekor bantuan. Produksi telurnya juga mencapai sekitar 3 kilogram per hari dan dipasarkan kepada warga sekitar dengan harga Rp22.000 per kilogram. Ia menyampaikan keluhan yang sama terkait meningkatnya biaya pakan dan melemahnya harga jual telur.

Meski menghadapi dinamika harga di pasar, hasil monitoring menunjukkan tingkat keberlangsungan program masih cukup baik. Sebagian besar ayam bantuan tetap terpelihara dengan tingkat produktivitas yang stabil, sehingga masih mampu menghasilkan pendapatan tambahan bagi penerima manfaat.

Tim Pendamping IDFoS Indonesia, Prastya, mengatakan bahwa monitoring lapangan menjadi bagian penting untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan sekaligus mengidentifikasi tantangan yang dihadapi masyarakat.

Baca juga:  Kolaborasi untuk Wisata Berkelanjutan di Bojonegoro, IDFoS Indonesia dan Bappeda Bahas Pengembangan Geopark

“Dari hasil monitoring, kami melihat para penerima manfaat tetap konsisten menjalankan usaha peternakan ayam petelur. Produktivitas ayam masih cukup baik dan aset bantuan juga terjaga. Meskipun saat ini mereka menghadapi tantangan berupa kenaikan harga pakan dan penurunan harga telur,” ujar Prastya.

Temuan lapangan ini menjadi bahan evaluasi untuk terus memperkuat keberlanjutan Program GAYATRI melalui pendampingan teknis maupun pengembangan strategi usaha agar tetap mampu bertahan menghadapi dinamika pasar.