,

Laily Mubarokah: Perempuan yang Berjuang untuk Pemberdayaan Perempuan dan Anak

Laily Mubarokah, perempuan asal Trucuk, Bojonegoro, sosok yang fokus dalam bidang pendidikan serta pemberdayaan perempuan dan anak. Lulusan Sarjana Pendidikan ini sempat berkarier sebagai guru selama lima tahun sebelum akhirnya terjun lebih dalam ke dunia sosial.

Perjalanannya dimulai ketika ia pertama kali mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh  IDFoS Indonesia. Ketertarikannya terhadap isu sosial membuatnya bergabung sebagai relawan, meskipun saat itu ia masih aktif mengajar. Hingga akhirnya, pada tahun 2012, Laily memutuskan untuk bergabung secara penuh dengan IDFoS Indonesia.

Seiring waktu, perannya di IDFoS terus berkembang. Setelah sebelumnya terlibat dalam berbagai program sebagai relawan dan pendamping, pada tahun 2015 ia dipercaya untuk menjadi Koordinator Divisi Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan. Tak hanya aktif di IDFoS, Laily juga berkontribusi dalam dunia pendidikan sebagai anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Bojonegoro. 

Baca juga:  IDFoS Indonesia Siapkan Diskusi Reboan untuk Bahas Pembayaran Jasa Lingkungan di Bojonegoro

Selama menjadi Koordinator Divisi, Laily telah menjalankan berbagai program yang berdampak besar bagi masyarakat, di antaranya: Pemberdayaan petani bawang merah; Pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM); Pemberdayaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta Karang Taruna; Penguatan Posyandu di Bojonegoro; Program Pengurangan Pekerja Anak di Sektor Pertanian Tembakau.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat menjalankan program Penguatan Posyandu untuk pengurangan stunting di sebuah desa yang terletak di pinggiran Bengawan Solo. Ia menuturkan, “Salah satu momen yang paling berkesan bagi saya adalah ketika para ibu balita dan kader posyandu secara sukarela berkontribusi dengan menyumbangkan bahan makanan untuk mendukung kegiatan posyandu. Itu menunjukkan bahwa mereka sangat peduli dengan gizi anak-anak.” Laily meyakini bahwa keterlibatan masyarakat adalah kunci utama dalam keberhasilan sebuah program. Ketika masyarakat merasa memiliki dan berpartisipasi aktif, maka program dapat berjalan dengan lebih baik dan berkelanjutan.

Baca juga:  Sarana Promosi, Wirausaha Binaaan Ikuti Bazar Asosiasi UMKM

Wanita dengan paras ayu ini juga melakukan riset mengenai faktor penyebab perkawinan anak di Bojonegoro. Ia berharap angka perkawinan anak dapat ditekan secara signifikan melalui edukasi yang lebih masif serta kebijakan yang lebih ketat. Namun, ia menyadari bahwa mengubah pola pikir masyarakat yang masih menganggap pernikahan anak sebagai sesuatu yang lumrah bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak untuk menciptakan perubahan yang nyata demi masa depan anak-anak yang lebih baik.

Di luar perannya sebagai Koordinator Divisi di IDFoS Indonesia, Laily juga menjalani peran penting sebagai ibu dari tiga anak laki-laki. Menyeimbangkan tanggung jawab antara pekerjaan dan keluarga tentu bukan hal yang mudah. “Membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga memang penuh tantangan, tetapi komunikasi yang baik dengan anak-anak menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan,” ungkapnya.

Baca juga:  CERIA 2024 - Perempuan Berdaya, Ekonomi Maju