,

Menjelang Ramadhan, Harga Sembako Bikin Panik

Menjelang Ramadhan, Harga Sembako Bikin Panik

Bojonegoro- Menjelang ramadhan tahun ini kenaikan harga beras sangat melejit.  Hingga Selasa (27/02) harga beras mencapai Rp.17.000 per kilogramnya (kg), hal ini sangat membuat masyarakat resah. (Sumber: Radar Bojonegoro)

Bagi masyarakat kelas menengah kebawah kenaikan harga beras ini sangat menjadi beban, karena kenaikan harganya akan menambah jumlah pengeluaran, apalagi beras adalah bahan pokok kita dalam kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, ketika harga-harga pangan (beras, minyak, telur, sayuran) pada melonjak naik juga akan menyebabkan para pedagang sulit dalam mendapatkan pelanggan karena harga terlalu tinggi.

Para pedagang UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang menjual makanan, membuat para pedagang tersebut harus menurunkan kuantitas dagangan mereka dari sebelum terjadinya kenaikan harga pangan. Kenaikan harga pangan tersebut sangat merugikan sekali bagi mereka para pedagang  dalam mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari.

Baca juga:  Laily Mubarokah Isi Materi Advokasi Kebijakan Publik Berbasis Gender di Sekolah Kader Kopri PMII Bojonegoro

Dampak dari kenaikan harga ini memiliki impact yang besar pada perekonomian masyarakat yang notabene ekonominya sulit. Kenaikan harga ini harus segera diatasi oleh pemerintahan agar masyarakat tidak terbebani.

Apa yang bisa di lakukan pemerintah dalam strategi untuk mengendalikan harga beras yang naik? Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah menugaskan Bulog untuk menggencarkan operasi pasar yang bernama SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten  Bojonegoro.

Meski pemerintah telah melakukan operasi pasar, langkah tersebut belum signifikan dalam menurunkan harga beras. Pemerintah juga perlu melakukan mitigasi, karena kenaikan harga ini pasti terjadi setiap tahunnya.

Baca juga:  Diskusi Reboan Bahas Partisipasi Multipihak

Laily Mubarokah selaku Ketua Divisi Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan IDFoS Indonesia mengatakan jadi harga beras ini tinggi kan memang karena cuaca, yang biasanya bulan Oktober 2023 sudah musim hujan ternyata karena cuaca ekstrem sehingga musim penghujan jadi mundur bulan Januari 2024.

“Akibatnya banyak petani tadah hujan di Bojonegoro  ini tidak tanam padi dan baru pada bulan Januari-Februari ini mereka menanam,” ujarnya.

“Menanggapi terkait harga beras mahal itu solusinya bisa alternatif, kita gak harus melulu makan nasi karena sumber karbohidrat tidak hanya beras. Bisa dari bahan makanan lain seperti ubi, singkong kemudian tepung itu kan juga sumber karbohidrat,” paparnya.

“Karena memang mindset orang dulu kalau gak makan nasi berarti itu gak makan, meskipun kita makan roti makan mi itu juga karbohidrat tapi mindsetnya katanya kurang kenyang dsb,” tambah Laily.

Baca juga:  Keterbukaan Belum Sampai ke Desa

Perlu diingat juga bahwa konsumsi nasi setiap hari memiliki efek positif dan negatif untuk tubuh. Nasi mengandung karbohidrat yang sebenarnya sama dengan gula. Jadi, terlalu sering mengonsumsi nasi bisa meningkatkan kadar gula dalam darah.

Semoga kenaikan harga bahan pokok ini bisa segera teratasi dan kembali normal.