,

Pulihkan Ekosistem Hulu, IDFoS Indonesia Gelar “Cangkruk Tani” di Sekar

Bojonegoro – Melalui program Penghijauan Tahun 2026, IDFoS Indonesia bersama  ExxonMobil Cepu Limited menggelar forum diskusi partisipatif bertajuk “Cangkruk Tani” di kawasan hutan Desa Sekar, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (26/9/2026). Pertemuan yang berlangsung di gubuk milik Kelompok Tani Hutan Wono Sekar Makmur 2 difokuskan untuk merumuskan langkah konkrit pelestarian fungsi hutan melalui keterlibatan aktif masyarakat lokal.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh tim IDFoS Indonesia, perwakilan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Bojonegoro, Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Sekar Makmur 2, serta puluhan petani penggarap (pesanggem) yang saat ini mengelola lahan di kawasan perbukitan Sendang Gujel. Meski dikemas secara santai dan terbuka, forum ini membahas strategi teknis pemulihan tutupan lahan demi menjaga kelestarian ruang hidup jangka panjang.

Baca juga:  Diskusi Reboan tentang Tata Kelola Pemdes

Manager Program IDFoS Indonesia, Laily Mubarokah, menegaskan bahwa peran masyarakat di sekitar kawasan hutan menjadi faktor penentu dalam mengembalikan daya dukung lingkungan di wilayah hulu.

“Kami mengajak petani untuk bersama-sama memikirkan bagaimana hutan ini dapat kembali berfungsi optimal, baik secara ekologis maupun ekonomis. Keberhasilan pemulihan kawasan sangat bergantung pada komitmen dan peran aktif petani setempat,” jelas Laily.

Dalam sesi diskusi, tim IDFoS Indonesia memaparkan konsep pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis agroforestri (agroforestry). Sistem ini mengintegrasikan tanaman pohon berkayu keras dengan komoditas pertanian pangan maupun pakan ternak. Melalui skema tersebut, para pesanggem diajak berdialog menentukan jenis vegetasi yang adaptif, mengatur kerapatan jarak tanam, serta menyelaraskan aspek pemeliharaan tanpa mengabaikan produktivitas lahan garapan.

Baca juga:  15 Desa Terima Bantuan Program Patra Daya

Peningkatan kesadaran kolektif ini dinilai mendesak seiring berkurangnya luasan tutupan hutan setiap tahunnya. Pendekatan partisipatif dipilih agar perbaikan tutupan lahan berjalan selaras dengan kebutuhan penghidupan petani.

Senada dengan hal itu, Ketua KTH Wono Sekar Makmur 2, Prasetyo, mengapresiasi ruang rembuk terbuka yang memberikan hak suara penuh kepada para petani penggarap.

“Rembuk seperti ini sangat penting. Semua pendapat pesanggem silakan diutarakan secara terbuka, mulai dari pemilihan jenis tanaman, pengaturan jarak tanam, hingga komitmen bersama dalam merawat dan menjaga tanaman tersebut sampai tumbuh optimal,” ujar Prasetyo.