,

Diskusi Reboan, Hadapi Tantangan Perubahan Iklim

Pemanasan global telah menjadi isu paling mendesak yang dihadapi dunia, dampaknya sangat terasa mulai dari kenaikan suhu global, perubahan pola cuaca yang ekstrem, terancamnya keberdaan ekosistem alami, peningkatan intensitas bencana alam dan ancaman terhadap keberlanjutan kehidupan di bumi menjadi kenyataan yang sulit dihindari karena kurang kuat dan siap dengan adanya perubahan tersebut.

Untuk mengatasi masalah ini, perlu adanya upaya bersama dari pemerintah, masyarakat, dan seluruh pihak untuk menjaga keberlanjutan hutan Indonesia. Hutan menjadi salah satu yang sangat penting dalam menjawab tantangan pemanasan global.

Untuk mendorong kesadaran akan pentingnya aksi menjaga lingkungan dan hutan  serta menguatkan peran berbagai sektor dalam mengintegrasikan kebijakan untuk pelestarian lingkungan dan hutan yang berkelanjutan demi generasi mendatang, maka IDFoS Indonesia  menggelar Diskusi Reboan dengan  tema “Menghadapi Tantangan Perubahan Iklim: Peran Penting dalam Melestarikan Lingkungan dan Hutan”.

Diskusi yang dilakukan secara luring  dan daring ini dilaksanakan pada Rabu (13/12/2023) di Aula Mayor Sogo Universitas Bojonegoro. Acara dikemas dalam bentuk Diskusi panel dengan beberapa pemantik dan peserta aktif. Kegiatan kali ini merupakan rangkaian kegiatan harlah IDFoS Indonesia yang ke-25 Tahun.

Dari tiga narasumber yang diundang, dua hadir secara langsung. Di antaranya adalah Prof. Dr. Suratman, M.Sc dari Universitas Gajah Mada dan Ir. Teguh Dwi Putra, S.Pt, M.Sc. IPM dari Poltana Mapena. Sedangkan narasumber yang hadir secara virtual yaitu Nur Faizin dari BPSKL Wilayah Jawa.

Ada 60 peserta diskusi yang hadir, terdiri dari unsur pemerintah, perusahaan/swasta, organisasi masyarakat sipil serta akademisi dan media dari Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Blora. Empat kabupaten ini memiliki karakteristik yang mirip, sebab sama-sama berada di wilayah aliran Bengawan Solo dan memiliki luas hutan  dengan karakteristik masyarakat yang relatif mirip.

Baca juga:  Menggagas BUMDesa Inklusif

Dimulai pukul 10.00 WIB, acara dibuka oleh Ketua IDFoS Indonesia Joko Hadi Purnomo. Dilanjutkan sambutan dari perwakilan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Kusnandaka. Moderator dalam Diskusi Reboan ini adalah  Rizal Zubad Firdausi dari IDFoS Indonesia.

Ketua IDFoS Indonesia dalam sambutannya sekaligus membuka acara, menyampaikan bahwa Diskusi ini dilatarbelakangi oleh persoalan yang sekarang  mengemuka dan dimasa mendatang akan sangat berpengaruh bagi pembangunan di Indonesia terutama di empat wilayah tersebut, pembangunan untuk pencapaian kesejahteraan.

Hasil diskusi ini harapannya nanti ada inisiasi gagasan-gagasan yang bisa memunculkan kebijakan agar bisa menjadi manfaat bagi kita semua, tambahnya.

Kusnandaka selaku Asisten Perekonomian Pembangunan Pemkab Bojonegoro ucapkan terimakasih kepada IDFoS Indonesia  yang telah menginisiasi  Focus Group Discussion yang hari ini kita tuangkan pikiran-pikiran  dan fenomena-fenoma yang terjadi baik dari kekuatan kelemahan potensi dan ancamannya sehingga kita bisa mempunyai pemikiran-pemikiran  solusi konstruktif dimasa akan datang.  Masa yang akan datang itu lah tantangan kita,  keluhan masa kemarin itu adalah sejarah dan bagian inputing bagi kita  untuk berpikir lebih maju.

“Bojonegoro memang kaya akan SDA (Sumber Daya Alam), namun SDA ini terbatasi waktu, artinya kalau tidak dikelola dengan benar dan terstruktur maka dimasa yang akan datang  lingkungan kita  akan menjadi orang kaya calon miskin,  kenapa demikian, kalau SDA  sudah turun hasil produksinya  maka lingkungan ini akan semakin tidak  tertata jika tidak mempersiapkan diri  akan terjun bebas seperti daerah-daerah lainnya, paparnya.

Baca juga:  Wujudkan Pemerintahan Terbuka, Bojonegoro Perlu Jamin Partisipasi

Bojonegoro diabad 16,17,18, sampai 20  punya kebanggaan dengan luas wilayah kawasan  hutan 40%, maka secara tidak langsung bisa menangkap eco carbon  yang luar biasa, namun saat ini jika kita amati di Bojonegoro wilayah barat dan selatan  kita sudah  tidak melihat itu , sudah tidak ada rindangnya hutan, apalagi kayunya tunggaknya saja  sudah tidak ada, hal ini  juga berpengaruh terhadap perubahan iklim karena  tangkapan karbon  tidak biss optimal.

Bapak Nur Faizin narasumber pertama menyampaikan terkait Perhutanan Sosial merupakan bagian  mitigasi perasalahan kondisi lingkungan terutama dipulau jawa.  Hutan di jawa sudah tidak baik-baik saja, tidak optimal lagi karena lahan beralih pertanian, perkebunan dan pemukiman.

Ada Program KKP (Kemitraan Kehutanan Perhutani)  dan KKPP (Kemitraan Kehutanan Perhutani Produktif)  kolaborasi para pihak  Perum Perhutani, CDK, Pemerintah Kabupaten, untuk memfasilitasi para penggarap kawasan hutan. Sehingga selain masyarakat sejahtera, pertumbuhan ekonomi juga akan naik dan kita akan  upayakan percepatan pemulihan  kawasan hutan.

Dilanjut dengan paparan dari Prof. Dr. Suratman, M.Sc terkait Konservasi Hutan untuk Meningkatkan Mitigasi. Bliau menyampaikan bahwa dampak perubahan iklim menjadi permasalahan global. Indonesia harus mengambil bagian dari upaya mitigasi terhadap dampak perubahan iklim seperti mengurangi emisi karbon dan meningkatkan transportasi massal ramah lingkungan, meningkatkan pendidikan konservasi lingkungan yang berkelanjutan dengan melibatkan komunitas masyarakat adat, memperbanyak hutan kota dan ruang terbuka hijau dan lainnya.

Baca juga:  Tingkatkan Status Desa Menuju Tata Kelola Pemdes yang Baik dan Bersih

Prinsip  konservasi adalah jiwa, jiwa melestarikan  dan melindungi, orang yang peduli bukan hutannya, kalau orang tidak punya jiwa itu hutan akan rusak, tuturnya.

Bliau berpesan, edukasi dan work aksi penting untuk hadapi tantangan  perubahan iklim.

Kemudian narasumber yang terakhir Ir. Teguh Dwi Putra, S.Pt, M.Sc. IPM sampaikan paparan terkait integrasi sektor pendidikan dalam upaya  peningkatan kualitas lingkungan dan pelestarian hutan.

Menurut Ir. Teguh, kenapa harus diintegrasikan dengan pendidikan? jadi kalau bangunan biar kokoh pondasinya harus kuat, segala bentuk program dan pembangunan jika mau berhasil maka kuncinya adalah SDM, jadi bagaimana SDM harus terus kita support  untuk terus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Pendidikan dapat mengembangkan kemampuan dan dapat membentuk watak, sehingga SDM harus diberi bekal untuk menghadapi tantangan yang akan terjadi, dan dalam sisi aspek lingkungan bahwa semua harus bersepakat bahwa hutan harus berfungsi sebagai hutan,” ungkapnya.

Di akhir sesi moderator menggaris bawahi bahwa peran berbagai pihak sangat diperlukan, sinergi secara bersama sama harus dilakukan dengan didahului riset serta berbagai keilmuan untuk membuat roadmap lingkungan yang baik dan berkelanjutan, yang kemudian harus di ditindaklanjuti dengan regulasi yang mendukung.