IDFoS Gelar Rembug Bareng Pesanggem: Komitmen Jaga Alam demi Anak Cucu

IDFoS Indonesia memperkuat komitmen konservasi alam dengan menggelar rembug bersama pesanggem (petani hutan) di wilayah Desa Pragelan, Kecamatan Gondang, dan Desa Deling, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro. Pertemuan ini menegaskan kesiapan pesanggem untuk aktif terlibat dalam program penghijauan demi mencegah bencana dan menjaga kelestarian mata air.
Rembug yang berlangsung pada Rabu, 8 Oktober 2025, ini merupakan rangkaian kegiatan dari program penghijauan yang diprakarsai oleh ExxonMobil Cepu Limited. Rencananya, sebanyak 9.200 bibit akan disalurkan kepada petani hutan yang menggarap lahan di petak 129, 130 (Pragelan), serta petak 197, 198, dan 80 (Deling).

Bertempat di rumah Mantri Perhutani Pragelan dan rumah pesanggem Dusun Dibal Desa Deling, rembug berlangsung hangat. Manager Program IDFoS, Laily Mubarokah, bersama Pendamping Program, Iwan Zuhdi, memaparkan rencana program penghijauan yang disambut positif.
“Mayoritas para pesanggem berharap ada bantuan bibit buah dan bibit tanaman hutan sejak lama,” ujar salah Laily perwakilan IDFoS.
Mayoritas lahan garapan pesanggem berada di kawasan KPS (Kawasan Perhutanan Setempat), tepatnya di bibir bantaran Sungai Tidu dan Sungai Gandong, area yang sangat rawan terhadap kerusakan.
Program ini telah melalui serangkaian tahapan koordinasi, mulai dari lintas sektor dengan Exxon, Perhutani, uji lab tanah oleh kampus Unigoro, hingga koordinasi dengan Pemerintah Desa dan LMDH setempat. Gerakan penghijauan ini dinilai sangat mendesak (urgent) mengingat tutupan hijau yang semakin berkurang dari tahun ke tahun. Kondisi ini diperparah dengan seringnya terjadi banjir bandang dan tanah longsor di wilayah tersebut.
Selain fokus pada kawasan KPS, program penghijauan ini juga akan menyisir sumber-sumber mata air di kedua desa. Dari data yang dihimpun, terdapat 13 sumber mata air yang menjadi target konservasi.
Dari hasil rembug, para pesanggem menyatakan siap dan sanggup untuk menanam dan merawat bibit hingga berbuah. Kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam ini menguat, di mana mereka berkomitmen melakukan penanaman “demi keseimbangan alam dan demi anak cucu hari kelak.”
Keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi model sinergi antara NGO, perusahaan, Perhutani, dan masyarakat dalam upaya menjaga lingkungan di Bojonegoro.



