Perkuat Pemahaman CSR Migas, PT ADS Hadirkan IDFoS Indonesia sebagai Narasumber

Bojonegoro – Rabu, (10/12/2025) Ketua IDFoS Indonesia, Dr. Joko Hadi Purnomo, S.E., M.E., M.Si, menjadi narasumber dalam Pelatihan Perencanaan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang diselenggarakan oleh PT ADS di Ruang Pertemuan Kinarya, Aston Hotel Bojonegoro. Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan PT ADS, PT Petrogas Jatim Utama Cendana dan PT SPHC, yang tergabung dalam Badan Kerja Sama (BKS) Participating Interest (PI) Blok Cepu.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta mengenai paradigma bisnis dan hak asasi manusia (HAM), regulasi CSR migas, standar internasional, serta membangun pola pikir bahwa CSR merupakan investasi sosial jangka panjang bagi perusahaan.
Acara dibuka dengan sambutan Direktur PT ADS Bojonegoro, Kundori, yang menekankan pentingnya CSR dalam mendorong peningkatan UMKM dan koperasi di daerah. Ia juga menyoroti berbagai kasus CSR yang muncul di sektor perbankan serta perlunya pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tren CSR dan perspektif TJSL. “Kami ini BUMD dengan kepemilikan saham daerah. Ketika ada kendala di lapangan, kitalah yang pertama ditanya. Karena itu wawasan CSR harus semakin kuat,” ujarnya.

Pada sesi pertama, Joko Hadi Purnomo menyampaikan materi mengenai Bisnis dan HAM, meliputi HAM dalam operasi perusahaan dan pentingnya aspek HAM dalam industri migas. Ia menjelaskan bahwa masih terdapat beragam pemahaman terkait TJSL di berbagai perusahaan. “Awalnya TJSL bukan sesuatu yang wajib, dan tidak selalu dipahami dalam bentuk dana. Namun setelah masuk dalam regulasi, khususnya UU Perseroan Terbatas, CSR kemudian dipisahkan dan menjadi kewajiban perusahaan,” terangnya.
Materi dilanjutkan dengan pembahasan mengenai konsep CSR. Joko menekankan bahwa CSR bukanlah upaya menggantikan peran negara, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan untuk mengatasi dampak sosial yang muncul akibat aktivitas operasional. Setelah sesi tanya jawab, pelatihan berlanjut pada pemaparan ketiga terkait Social Impact Assessment (SIA) atau Analisis Dampak Sosial dan Lingkungan.
Joko menjelaskan bahwa kualitas program yang diberikan perusahaan kepada masyarakat dapat diukur melalui Social Return on Investment (SROI) serta indeks kepuasan masyarakat. Dari hasil tersebut, perusahaan dapat menilai keberlanjutan program dan tingkat penerimaan sosial. “CSR adalah bagian dari bagaimana perusahaan mengelola ekspektasi. Ekspektasi sosial masyarakat semakin tinggi mereka berharap peningkatan infrastruktur, kesejahteraan, hingga peluang ekonomi. Jika tidak dikelola dengan baik, ekspektasi ini bisa memicu konflik,” jelasnya.
Ia juga memaparkan bahwa pada tahap produksi migas, terdapat dampak positif seperti peningkatan pendapatan lokal, tumbuhnya UMKM, dan terbukanya lapangan kerja. Namun, dampak negatif yang harus diantisipasi meliputi munculnya ketergantungan masyarakat terhadap perusahaan dan potensi ketimpangan sosial.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu merancang program TJSL yang lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan sesuai prinsip tanggung jawab sosial modern yang menekankan transparansi, keberlanjutan, dan keberpihakan pada kepentingan publik.



