,

Antisipasi Dampak El Nino, TKPSDA WS Bengawan Solo Rekomendasikan Penyesuaian Siklus Tanam

Surakarta – Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (TKPSDA WS) Bengawan Solo menyelenggarakan Masa Sidang I Tahun 2026 yang berlangsung selama dua hari, yakni Rabu hingga Kamis (15–16 April 2026). Kegiatan yang dipusatkan di The Alana Hotel & Convention Center Solo ini berfokus pada koordinasi strategis pengelolaan sumber daya air di sepanjang wilayah aliran sungai Bengawan Solo.

Sidang ini terbagi menjadi dua agenda utama, yakni Sidang Komisi pada hari pertama dan Sidang Pleno pada hari kedua. Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari instansi pemerintah tingkat provinsi dan kabupaten/kota, hingga organisasi non-pemerintah dan komunitas peduli sungai.

Dalam rangkaian sidang tersebut, isu perubahan iklim menjadi bahasan krusial, khususnya pada Komisi 3 yang membidangi Pengendalian Daya Rusak Air dan Pengelolaan Sistem Informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, dan Hidrogeologi (PSIH3).

Baca juga:  Menparekraf, Sandiaga Uno Apresiasi TPS Perintis PP Al-Rosyid

Rizal Zubad Firdausi, yang hadir mewakili IDFoS Indonesia sebagai anggota Komisi 3, mengungkapkan bahwa salah satu tantangan utama yang dihadapi tahun ini adalah adanya potensi fenomena El Nino dengan intensitas moderat. Fenomena ini diprediksi akan menyebabkan musim kemarau di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi lebih kering dibandingkan periode normal.

Menanggapi ancaman tersebut, TKPSDA WS Bengawan Solo bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo merumuskan sejumlah rekomendasi teknis untuk meminimalisir resiko kerugian di sektor pertanian. Diantaranya meminta pemerintah kabupaten dan kota untuk segera merencanakan ulang siklus tanam pertanian di wilayah masing-masing. Perencanaan ini harus mempertimbangkan kondisi kecukupan air Q80 atau kondisi sungai saat kering.

Baca juga:  Sosialisasi Program Pengembangan Jaringan Air Bersih

Langkah ini dinilai sangat penting untuk meminimalisir defisit kebutuhan air yang sering kali berujung pada gagal panen. Dengan penyesuaian jadwal tanam yang presisi, diharapkan para petani tidak memaksakan penanaman komoditas yang membutuhkan banyak air di saat debit sungai sedang berada pada titik terendah.

Selain isu kekeringan, Masa Sidang I ini juga membahas evaluasi musim hujan 2025/2026 serta upaya mitigasi bencana secara umum di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sidang ini merupakan perwujudan sinergi antara pemerintah dan elemen masyarakat untuk memastikan ketersediaan dan keamanan sumber daya air bagi seluruh warga di sepanjang wilayah sungai Bengawan Solo.

IDFOS Indonesia merupakan salah satu anggota TKPSDA WS Bengawan Solo dari unsur non-pemerintah yang aktif memberikan masukan terkait kebijakan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya.

Baca juga:  Menggali Potensi Desa Sawahan, IDFoS Indonesia dan Kepala Desa Diskusikan Budidaya Ikan Tawes