,

Antisipasi Kemarau Panjang, Uji Coba Media Tanam Metode Miyawaki di Lahan Hulu

Bojonegoro – Jumat (29/05/2026), IDFoS Indonesia bersama kelompok masyarakat melakukan uji coba formula media tanam menggunakan metode perhutanan mikro Miyawaki di kawasan hutan selatan Bojonegoro. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program Rehabilitasi Lahan Hulu Anak Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro.

Program pelestarian ekosistem hulu ini diprakarsai oleh operator migas ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), didukung penuh oleh SKK Migas, serta difasilitasi oleh IDFoS Indonesia.

Aksi turun lapangan tersebut dipusatkan di lahan garapan Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Sekar Makmur 2. Agenda ini berjalan secara kolaboratif dengan melibatkan tim IDFoS Indonesia, ketua dan pengurus kelompok kerja (Pokja) KTH, serta didampingi langsung oleh perwakilan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) selaku pendamping Perhutanan Sosial (PS).

Baca juga:  STAI Al Hikmah Launching PSGA

Dalam penerapannya, tim di lapangan mengkombinasikan metode tanam Miyawaki dengan menguji beberapa komposisi media tanam organik. Bahan baku alami yang digunakan dalam uji coba ini meliputi campuran pupuk kompos, kompos sekam padi, hingga pemanfaatan sabut kelapa halus (cocopeat) untuk menutup lubang tanam bibit pohon.

Pendamping Lapangan IDFoS Indonesia, Syarif, menjelaskan bahwa perlakuan khusus pada media tanam ini dirancang untuk merekayasa kondisi mikro tanah di area tangkapan air hulu sungai.

“Uji coba pencampuran bahan organik ini bertujuan utama untuk menciptakan cadangan air alami yang kuat bagi tanaman ketika memasuki musim kemarau panjang. Harapannya, karakteristik pori-pori dari media cocopeat dan kompos tersebut bisa mengunci kelembaban, menampung cadangan air hujan secara optimal, dan menjaga kondisi tanah di sekitar akar pohon cenderung lebih dingin atau basah,” urai Syarif.

Baca juga:  Sampah, Kontributor Tertinggi Pencemaran Air

Melalui sinergi ini, harapannya tingkat kelangsungan hidup (survival rate) bibit pohon yang ditanam di wilayah tangkapan air hulu anak sungai Bengawan Solo dapat meningkat, sehingga fungsi hidrologis hutan dalam mencegah erosi dan kekeringan dapat kembali pulih secara berkelanjutan.